LAPORAN KIMIA
SEL VOLTA, ELEKTROLISIS, PENYEPUHAN, KOROSI
KELOMPOK 4
Maryon Sandi Thioris
Olivia Ardhana
Ryan Virya Mangala
Sinta Asarona Naibaho
Wilbert Chandra
SMA UNGGUL SAKTI
TAHUN AJARAN 2019/2020
PERCOBAAN 1
: PERCOBAAN
PENYEPUHAN LOGAM
A.
TUJUAN
PERCOBAAN
Untuk
membuktikan dan menghitung berat tembaga yang melapisi
koin 1000 dari percobaan elektrolisis yang dilakukan.
B.
LANDASAN
TEORI
Proses
penyepuhan adalah proses produksi benda-benda yang terbuat dari logam yang dilapisi
(disalut) dengan suatu lapisan tipis logam lain. Pada umumnya proses penyepuhan
dilakukan untuk melindungi logam itu terhadap korosi dan membuat penampilan
benda itu lebih menarik.
Salah satu
cara dalam proses penyepuhan adalah dengan elekrolisis. Benda logam yang akan
disepuh dijadikan katode dan potongan tebal logam penyepuh dijadikan anode.
Kedua elektrode itu dibenamkan dalam suatu larutan garam dari logam penyepuh
yang dihubungkan dengan sumber arus searah (arus DC). Logam besi/baja
mudah terkena korosi/karat. Untuk melindungi besi/baja dari korosi, maka
besi/baja dilapisi suatu logam yang sukar teroksidasi, seperti nikel (Ni),
timah (Sn), krom (Cr), perak (Ag), atau emas (Au). Prinsip kerja
penyepuhan/pelapisan logam adalah sel elektrolisis larutan dengan menggunakan
elektrode yang bereaksi.
C.
ALAT
DAN BAHAN
- Penjepit buaya dan kabel
- Gelas aqua
- Koin Rp.500 warna kuning
- Koin Rp.1000
- Baterai 9 volt
- Larutan CuSO4
D.
LANGKAH
KERJA
1.
Sambung kabel pada penjepit buaya
2.
Hubungkan baterai pada
penjepit buaya
3.
Timbang koin untuk
mengetahui massa awal koin
4.
Jepit koin pada penjepit
buaya
5.
Celupkan koin yang telah
dijepit kedalam larutan CuSO4
6.
Amati perubahan yang
terjadi
E.
DATA PENGAMATAN
Logam penyepuh
|
Logam yang disepuh
|
Massa awal koin 1000
|
Massa akhir koin 1000
|
Massa awal koin 500
|
Massa akhir koin 500
|
500
Anoda(+)
|
1000
Katoda (-)
|
4,52
|
4,57
|
5,29
|
5,31
|
Sebelum pengamatan
|
Setelah pengamatan
|
||
Koin 1000 pada awalnya bermassa 4,52 gr
dan berwarna putih
|
Koin 500 pada awalnya bermassa 5,29 gr
dan berwarna kuning
|
Koin 1000 mengalami penambahan massa
0,05 gr dan berubah warna menjadi kemerahan
|
Koin 500 mengalami penambahan massa 0,02
gr dan terjadi pemudaran warna
|
![]() |
| Koin 500 sebelum penyepuhan |
![]() |
| Koin 1000 sebelum penyepuhan |
![]() |
| Koin 1000 setelah penyepuhan |
![]() |
| Koin 500 setelah penyepuhan |
F.
PEMBAHASAN
Pada katoda koin 1000 warna awalnya putih dan warna awal koin 500 berwarna
kuning keemasan. Setelah dilakukan penyepuhan koin 1000 berubah warna menjadi
kemerahan sedangkan koin 500 perlahan-lahan mengalami pemudaran.
Terlihat dalam percobaan ini koin 1000
terlapisi oleh tembaga. Hal ini disebabkan oleh pergerakan ion Cu2+ yang
tereduksi di katoda, yang membentuk Cu pada katoda.
Cu2+ (aq) +
2e- → Cu(s)
Pada anoda terlihat logam Cu melebur. Hal ini dikarenakan Cu logam tak inert
yang dapat teroksidasi menjadi ion Cu2+ yang akan tereduksi menjadi
logam Cu yang akan melapisi koin 1000.
Cu(s) → Cu2+ (aq) +
2e-
G.
KESIMPULAN
Penyepuhan adalah pelapisan dengan logam menggunakan sel elektrolisis untuk
memperindah penampilan dan pencegahan korosi. Benda yang akan disepuh dijadikan
katode dan logam penyepuh sebagai anode. Larutan elektrolit yang digunakan
adalah larutan elektrolit dari penyepuh seperti pada penyepuhan tembaga adalah
CuSO4 dan Dan lamanya proses penyepuhan mempengaruhi ketebalan lapisan logam
penyepuh pada logam yang disepuh.
H.
SARAN
Sebaiknya pengamat melakukan pengamatan dengan teliti agar data yang
dihasilkan sesuai dengan teori, melakukan
penimbangan di tempat yang tidak terganggu oleh angin dan getaran untuk
ketepatan dalam menghitung hasil penimbangan. Apabila ingin mencegah logam dari korosi dan memperindah logam, kita dapat
melakukan proses penyepuhan dalam kehidupan sehari-hari.
I.
REFERENSI
http://rezzaarmanda.blogspot.com/2015/04/penyepuhan.html
http://sainsivet.blogspot.com/2017/12/laporan-praktikum-penyepuhan-logam.html
https://serbaserbicampuran.blogspot.com/search?q=laporan%20praktikum%20kimia
PERCOBAAN 2 : PERCOBAAN SEL VOLTA PADA BUAH
A.
TUJUAN
PERCOBAAN
Untuk mengukur energi
potensial standar sel (E0 sel) melalui percobaan dengan menggunakan
katoda dan anoda yang berbeda.
B.
LANDASAN
TEORI
Sel volta (sel galvani)
adalah sel elektrokimia di mana energi kimia dari reaksi redoks spontan diubah
menjadi energi listrik. Prinsip kerja sel volta dalam menghasilkan arus listrik
adalah aliran transfer elektron dari reaksi oksidasi di anoda ke reaksi reduksi
di katoda melalui rangkaian luar.
Adanya arus listrik berupa aliran
elektron pada sel volta disebabkan oleh adanya beda potensial antara kedua
elektroda yang disebut juga dengan potensial sel (Esel) ataupun gaya gerak
listrik (ggl) atau electromotive force (emf). Potensial sel yang diukur pada
keadaan standar (suhu 25°C dengan konsentrasi setiap produk dan reaktan dalam
larutan 1 M dan tekanan gas setiap produk dan reaktan 1 atm) disebut potensial
sel standar (E°sel). Nilai potensial sel sama dengan selisih potensial kedua
elektrode. Menurut kesepakatan, potensial elektroda standar mengacu pada
potensial reaksi reduksi.
E°sel
= E°katoda – E°anoda
Katoda adalah elektroda yang
memiliki nilai E° lebih besar (positif), sedangkan anoda adalah elektroda yang
memiliki nilai E° lebih kecil (negatif).
C.
ALAT
DAN BAHAN
v Buah
sunkist
v Buah
apel
v Lempeng
tembaga
v Lempeng
seng
v Paku
v Penjepit
buaya dan kabel
v Multimeter
D.
LANGKAH
KERJA
1.
Sambung kabel pada
penjepit buaya
2.
Hubungkan salah satu ujung
penjepit buaya dengan multitester
3.
Hubungkan ujung penjepit buaya
lainnya ke lempeng yang telah ditancapkan pada buah sesuai dengan katoda dan
anoda yang telah ditentukan
4.
Kemudian lihat angka yang
terdapat pada multimeter dan catat hasilnya
E. DATA PENGAMATAN
No.
|
Buah
|
Katoda
(+)
|
Anoda (-)
|
E0
Sel
|
1.
|
Sunkist
|
Cu
|
Zn
|
0,45
|
2.
|
Sunkist
|
Cu
|
Fe
|
0,5
|
3.
|
Apel
|
Cu
|
Zn
|
0,6
|
4.
|
Apel
|
Cu
|
Fe
|
0,65
|
F.
PEMBAHASAN
Dengan menggunakan buah sunkist
apabila menggunakan katoda Cu dan anoda Zn menghasilkan E0
Sel sebesar 0,45 V. Sedangkan dengan menggunakan katoda yang sama namun dengan
anoda yang berbeda yaitu berupa Zn menghasilkan E0 Sel sebesar 0,5
V. Begitu juga pada apel, apabila dengan menggunakan anoda Fe akan menghasilkan
E0 Sel lebih besar dibandingkan dengan menggunakan anoda Zn.
Hal ini disebabkan karena reaktivitas
unsur logam dalam suatu reaksi redoks.
· Reaktivitas
unsur logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
· Sifat
reduktor (daya reduksi) logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
· Kecenderungan
logam untuk teroksidasi semakin berkurang dari kiri ke kanan.
· Sifat
oksidator (daya oksidasi) logam semakin bertambah dari kiri ke kanan.
· Kecenderungan
ion logam untuk tereduksi semakin bertambah dari kiri ke kanan.
G.
KESIMPULAN
Berdasarkan data diatas,
dapat disimpulkan bahwa perhitungan energi potensial standar sel (E0
sel) dipengaruhi oleh jenis anoda yang digunakan dalam bahan berupa buah yang
telah ditancapkan. Berdasarkan nilai E0 Sel dapat
disimpulkan bahwa Zn lebih sukar untuk menerima elektron dibandingkan dengan
Fe.
H.
SARAN
1. Menentukan
katoda dan anoda dengan tepat
2. Memasang
kabel pada penjepit buaya dengan benar
3. Mencatat
hasil penelitian dengan teliti dan benar
I.
REFERENSI
PERCOBAAN 3
: PERCOBAAN
KOROSI
A.
TUJUAN
PERCOBAAN
- Untuk mengetahui paku
pada aqua gelas manakah yang menjadi berkarat.
- Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja
yang menyebabkan perkaratan besi
- Cara pencegahan terjadinya korosi pada
besi
B.
LANDASAN
TEORI
Korosi
adalah peristiwa perusakan logam oleh karena terjadinya reaksi kimia antara logam dengan zat-zat di lingkungannya membentuk senyawa
yang tak dikehendaki. Pada peristiwa korosi, logam
mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara)
mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat.
Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna
coklat-merah.
Korosi
merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi
itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) <-->
Fe2+ (aq) + 2e-
Elektron
yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak
sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) +
4H+(aq) + 4e- --> 2H2O (l)
atau
O2(g) +
2H2O(l) + 4e- --> 4OH-(aq)
C.
ALAT
DAN BAHAN
- Paku 6
buah (Diamplas)
- Gelas
6 buah
-
Plastik
- Karet
- Air
mentah
- Air
mendidih
- Garam
- Cuka
makan
- Minyak
sayur
D.
LANGKAH
KERJA
1. Siapkan
alat dan bahan yang diperlukan
2. Siapkan
tabel hasil pengamatan
3. Berikan
identitas gelas tersebut (A-F)
4. Perlakuan
paku pada setiap gelas sebagai berikut :
- Paku A : diletakkan dalam gelas terbuka
- Paku B :
diisi air biasa & ditutup (air mentah)
- Paku C :
diisi air yang telah dididihkan (ditutup)
- Paku D :
diisi air + garam (1 sendok) dalam keadaan tertutup
- Paku E :
diisi air + cuka makan (1 sendok) dalam keadaan tertutup
- Paku F :
diisi minyak sayur dalam keadaan terbuka
5. Kemudian
amati dan catat perubahan yang terjadi dalam waktu 4 hari
E.
DATA PENGAMATAN
Dari
pengamatan yang kami lakukan, kami memperoleh data sebagai hasil sebagai
berikut :
Identitas
Gelas
|
Perubahan
yang terjadi
|
Gelas
A
(paku
yang diletakkan dalam gelas terbuka)
|
Hari
ke-1 : +
Hari
ke-2 : +
Hari
ke-3 : ++
Hari
ke-4 : ++
|
Gelas
B
(paku
yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air biasa/ mentah)
|
Hari
ke-1 : +
Hari
ke-2 : +
Hari
ke-3 : +
Hari
ke-4 : ++
|
Gelas
C
(paku
yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air yang telah dididihkan)
|
Hari
ke-1 : +
Hari
ke-2 : ++
Hari
ke-3 : ++
Hari
ke-4 : ++
|
Gelas
D
(paku
yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok garam)
|
Hari
ke-1 : +
Hari
ke-2 : +
Hari
ke-3 : +
Hari
ke-4 : +
|
Gelas
E
(paku
yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok cuka makan)
|
Hari
ke-1 : +
Hari
ke-2 : +
Hari
ke-3 : ++
Hari
ke-4 : +++
|
Gelas
F
(paku
yang diletakkan dalam gelas terbuka dan diisi minyak sayur)
|
Hari
ke-1 : -
Hari
ke-2 : -
Hari
ke-3 : -
Hari
ke-4 : -
|
![]() |
| Cuka 1 |
![]() | ||
| Cuka 2 |
![]() |
| Cuka 3 |
![]() |
| Cuka 4 |
![]() |
| Garam 1 |
![]() |
| Garam 2 |
![]() |
| Garam 3 |
![]() |
| Garam 4 |
![]() |
| Minyak 1 |
![]() |
| Minyak 2 |
![]() |
| Minyak 3 |
![]() |
| Minyak 4 |
![]() |
| Air terbuka 1 |
![]() |
| Air terbuka 2 |
![]() |
| Air terbuka 3 |
![]() |
| Air terbuka 4 |
![]() |
| Air mentah 1 |
![]() |
| Air mentah 2 |
![]() |
| Air mentah 3 |
![]() |
| Air mentah 4 |
![]() |
| Air rebus 1 |
![]() |
| Air rebus 2 |
![]() |
| Air rebus 3 |
![]() |
| Air rebus 4 |
F. PEMBAHASAN
Dari
hasil pengamatan kami, dapat kami peroleh data sebagai berikut :
Pada
paku A yang diletakkan dalam gelas terbuka telah mengalami korosi pada hari
pertama sedikit serta telah mengubah warna airnya menjadi agak kuning karena
mengandung O2 dan H2O.
Pada
paku B yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air mentah telah
mengalami korosi pada hari pertama sedikit serta telah mengubah warna airnya
menjadi agak kuning karena mengandung O2 dan H2O. Permukaan
pakunya mulai berkarat pada hari ke-2, dan airnya keruh pada hari ke-4.
Pada paku C yang diletakkan
dalam gelas tertutup dan diisi air yang telah dididihkan mengalami korosi
karena terdapat H2O.Namun, tingkat kemurnianya lebih
tinggi air suling meski bakteri dalam air panas telah dikurangi melalui proses
pemanasannya. Selain itu, suhu juga berpengaruh, semakin tinggi suatu suhu,
semakin cepat reaksi perkaratan berlangsung.
Pada paku D yang diletakkan dalam gelas
tertutup dan diisi air + 1 sendok garam),
paku terlihat berkarat, terjadi endapan yang begitu tebal dan oranye pada hari pertama. Pada hari kedua dan ketiga perubahan warna airnya menjadi semakin keruh.
paku terlihat berkarat, terjadi endapan yang begitu tebal dan oranye pada hari pertama. Pada hari kedua dan ketiga perubahan warna airnya menjadi semakin keruh.
Pada Paku E yang diletakkan
dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok cuka makan) terjadi
sedikit perkaratan pakunya. Pada hari
ke-2, terlihat sedikit karat pada bagian atasnya. Pada hari ke-3, terlihat
karat pada paku tersebut semakin membanyak dan membesar. Pada hari ke-4,
terjadi perubahan warna airnya dari bening menjadi kekuningan sedikit serta
karat pada paku tersebut semakin membesar.
Pada
Paku F yang diletakkan dalam gelas terbuka dan diisi minyak sayur) , tak
terlihat adanya karat pada paku.
Adapun
faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya korosi yaitu :
Konsentrasi H2O
dan O2
Dalam
kondisi kelembaban yang lebih tinggi, besi akan lebih cepat berkarat. Selain
itu, dalam air yang kadar oksigen terlarutnya lebih tinggi, perkaratan juga
akan lebih cepat. Hal ini sebagaimana air dan oksigen masing-masing berperan sebagai
medium terjadinya korosi dan agen pengoksidasi besi.
pH
Pada
suasana yang lebih asam, pH < 7, reaksi korosi besi akan lebih cepat,
sebagaimana reaksi reduksi oksigen dalam suasana asam lebih spontan
yang ditandai dengan potensial reduksinya lebih besar dibanding dalam suasana
netral ataupun basa.
Keberadaan
elektrolit
Keberadaan elektrolit seperti
garam NaCl pada medium korosi akan mempercepat terjadinya korosi, sebagaimana
ion-ion elektrolit membantu menghantarkan elektron-elektron bebas yang terlepas
dari reaksi oksidasi di daerah anode kepada reaksi reduksi pada daerah katode.
Suhu
Semakin
tinggi suhu, semakin cepat korosi terjadi. Hal ini sebagaimana laju reaksi
kimia meningkat seiring bertambahnya suhu.
Galvanic
coupling
Bila
besi terhubung atau menempel pada logam lain yang kurang reaktif (tidak mudah
teroksidasi, potensial reduksi lebih positif), maka akan timbul beda potensial
yang menyebabkan terjadinya aliran elektron dari besi (anode) ke logam kurang
reaktif (katode). Hal ini menyebabkan besi akan lebih cepat mengalami korosi
dibandingkan tanpa keberadaan logam kurang reaktif. Efek ini disebut
juga dengan efek galvanic coupling.
Teknik
pencegahan korosi besi
Korosi pada besi
menimbulkan banyak kerugian, karena barang-barang atau bangunan yang
menggunakan besi menjadi tidak awet.
Korosi pada besi dapat dicegah
dengan membuat besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), namun proses
ini membutuhkan biaya yang mahal, sehingga tidak sesuai dengan kebanyakan
pengunaan besi
Cara pencegahan korosi
pada besi dapat dilakukan sebagai berikut:
1.
Pengecatan
Pengecatan
berfungsi untuk melindungi besi dari kontak dengan air dan udara. Cat yang
mengandung timbal dan seng akan lebih melindungi besi terhadap korosi.
Pengecatan harus sempurna karena jika terdapat bagian yang tidak tertutup oleh
cat, maka besi di bawah cat akan terkorosi. Pagar bangunan dan jembatan
biasanya dilindungi dari korosi dengan pengecatan.
2.
Dibalut
plastik
Plastik mencegah
terjadinya kontak besi dengan air dan udara. Peralatan rumah tangga biasanya
dibalut plastik untuk menghindari korosi.
3. Pelapisan
dengan krom (Cromium plating)
Krom memberi
lapisan pelindung, sehingga besi yang dikrom akan menjadi
mengkilap. Cromium plating dilakukan dengan proses elektrolisis. Krom
dapat memberikan perlindungan meskipun lapisan krom tersebut ada yang rusak.
Cara ini umumnya dilakukan pada kendaraan bermotor, misalnya bumper mobil.
4.
Pelapisan
dengan timah (Tin plating )
Timah termasuk
logam yang tahan karat. Kemasan kaleng dari besi umumnya dilapisi dengan timah.
Proses pelapisan dilakukan secara elektrolisis atau electroplating.
Lapisan timah akan melindungi besi selama lapisan itu masih utuh. Apabila
terdapat goresan, maka timah justru mempercepat proses korosi karena potensial
elektrode besi lebih positif dari timah.
5.
Pelapisan
dengan seng (Galvanisasi)
Seng dapat
melindungi besi meskipun lapisannya ada yang rusak. Hal ini karena potensial
elektroda besi lebih negatif daripada seng, maka besi yang kontak dengan seng
akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Seng akan mengalami
oksidasi sehingga besi akan lebih awet.
6. Pengorbanan
anode (Sacrificial Anode)
Perbaikan
pipa bawah tanah yang terkorosi mungkin memerlukan perbaikan yang mahal
biayanya. Hal ini dapat diatasi dengan teknik sacrificial anode, yaitu
dengan cara menanamkan logam magnesium kemudian dihubungkan ke pipa besi
melalui sebuah kawat. Logam magnesium itu akan berkarat, sedangkan besi tidak
karena magnesium merupakan logam yang aktif .
G.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah
dilakukan, kita dapatkan bahwa paku yang paling cepat berkarat adalah paku yang
berada di botol yang berisi larutan garam yang tidak tertutup. Hal ini karena
perkaratan pada paku tersebut di pengaruhi oleh Oksigen dan Zat elektrolit
(garam). Kemudian yang paling berkarat sampai hari ke-7 adalah paku yang berada
di botol yang berisi air tanpa penutup. Hal ini jelas menunjukkan
bahwa kombinasi antara air dan oksigen akan lebih memberikan efek yang lebih
signifikan daripada keberadaan O2 saja atau H2O saja.
H.
SARAN
1.
Dalam
melakukan percobaan, sebaiknya kelompok tersebut memiliki kerjasama yang
kompak.
2.
Sediakan
alat dan bahan dengan lengkap.
3.
Jangan
lalai dengan kewajibannya untuk mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi
pada gelas setiap hari.
4.
Ikuti
petunjuk yang berlaku
I.
REFERENSI
http://allriseyuliaa.blogspot.com/2015/10/laporan-percobaan-korosi-logam-paku.html
http://mbahdegan.blogspot.com/2015/10/laporan-praktikum-kimia-uji-korosi-pada.html
http://widyaastutisahnur.blogspot.com/2013/10/laporan-praktikum-korosi-pada-paku.html
https://www.studiobelajar.com/korosi/
PERCOBAAN 4
: Elektrolisis
Pada Batang Karbon di Larutan ZnSO4
A.
TUJUAN
PERCOBAAN
Untuk
membuktikan teori elektrolisis melalui percobaan dan kadar Ph di katoda.
B.
LANDASAN
TEORI
Elektrolisis
adalah peristiwa penguraian atas suatu larutan elektrolit yang telah dilaliri
oleh arus listrik searah.Sedangkan sel di mana terjadinya reaksi tersebut
disebut sel elektrolisis.Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang dapat
menghantarkan listrik yang disebut elektrolit, dan sepasang elektroda yang
dicelupkan dalam elektrolit (larutan atau leburan). Pada sel elektrolisis,
reaksi kimia akan terjadi jika arus listrik dialirkan melalui larutan
elektrolit, yaitu energi listrik (arus listrik) diubah menjadi energi kimia
(reaksi redoks). Reaksi-reaksi elektrolisis bergantung pada potensial elektroda,
konsentrasi, dan over potensial dari spesi yang terdapat dalam sel
elektrolisis.
Elektroda
yang menerima elektron dari sumber arus listrik luar disebut Katoda, sedangkan
elektroda yang mengalirkan elektron kembali ke sumber arus listrik luar disebut
Anoda.Katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi dan anoda adalah tempat
terjadinya reaksi oksidasi.Katoda merupakan elektroda negatif karena menangkap
elektron sedangkan anoda merupakan elektroda positif karena melepas elektron.
Reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda pada sel elektrolisis sama seperti
pada sel volta, yaitu di katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi dan di
anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi. Akan tetapi, muatan elektronnya
berbeda. Pada sel volta katoda bermuatan positif dan anoda bermuatan negatif,
sedangkan pada sel elektrolisis katoda bermuatan negatif dan anoda bermuatan
positif.
C.
ALAT
DAN BAHAN
- Penjepit buaya
- Larutan ZnSO4
- Batang karbon
- Gelas aqua
D.
LANGKAH
KERJA
1. Sambunglah
kabel pada penjepit buaya
2. Lalu
kaitkan kemasing-masing batang karbon
3. Kemudian
lihat apa yang terjadi di masing-masing batang karbon
4. Kemudian
beri kertas lakmus didaerah batang katoda
E.
DATA PENGAMATAN
Cairan dalam ruang
|
Perubahan
elektrolisis
|
Perubahan warna
setelah elektolisis
|
Anoda
|
Terdapat
banyak gelembung dan pH<7
|
Tidak
terjadi perubahan warna, karbonnya biasa saja
|
Katoda
|
Gelembung
sedikit, keruh di sekitar elektroda
|
Karbonnya
berwarna putih terlapisi oleh Zn
|
F.
PEMBAHASAN
Ketika reaksi
berlangsung, pada Anoda tidak mengalami perubahan warna.Pada Anoda elektrolisis
bersifat asam karena dapat ditemukan ion H+. Ion H+ dan gas
O2 merupakan hasil reduksi yang dapat ditemukan di Anoda sehingga pada
Anoda dapat ditemukan banyak gelembung. Maka reaksi yang terjadi yaitu :
2H2O → O2 +
4H+ + 4e
Ketika reaksi
berlangsung, pada Katoda mengalami perubahan warna menjadi merah keunguan.
Hal tersebut menandakan bahwa pada Katoda unsur Zn mengalami pengendapan,
maka reaksi yang terjadi yaitu
2 Zn2+ + 4e
→ 2 Zn
G.
KESIMPULAN
Elektrolisis
adalah peristiwa penguraian atas suatu larutan elektrolit yang telah dilaliri
oleh arus listrik searah.Sedangkan sel di mana terjadinya reaksi tersebut
disebut sel elektrolisis.Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang dapat
menghantarkan listrik yang disebut elektrolit, dan sepasang elektroda yang
dicelupkan dalam elektrolit (larutan atau leburan).
Dari
hasil pengamatan,dapat kami simpulkan bahwa sel elektrolisis mengubah energy
listrik menjdi energy kimia.Hal ini didasarkan pada terdapatnya gelembung udara
pada katoda maupun anoda dan terjadinya perubahan warna indikator akibat
berubahnya konsentrasi OH{-} pada katoda dan H{+} pada anoda.
H.
SARAN
Sebaiknya
peristiwa percobaan dengan teliti,beri kertas lakmus di masing-masing batang
katoda bukan hanya di batang katoda saja.
I.
REFERENSI
Http://praktikum-kimia-sel-elektrolisis
Http://noviakimiapasca.wordpress.com
Http://wikipedia-elektrolisis.com


































