Jumat, 11 Oktober 2019

LAPORAN KIMIA


LAPORAN KIMIA
SEL VOLTA, ELEKTROLISIS, PENYEPUHAN, KOROSI

      
  
KELOMPOK 4
Maryon Sandi Thioris
Olivia Ardhana
Ryan Virya Mangala
Sinta Asarona Naibaho
Wilbert Chandra

SMA UNGGUL SAKTI
TAHUN AJARAN 2019/2020




PERCOBAAN 1 : PERCOBAAN PENYEPUHAN LOGAM

A.                 TUJUAN PERCOBAAN
Untuk membuktikan dan menghitung berat tembaga yang melapisi koin 1000 dari percobaan elektrolisis yang dilakukan.

B.                 LANDASAN TEORI
Proses penyepuhan adalah proses produksi benda-benda yang terbuat dari logam yang dilapisi (disalut) dengan suatu lapisan tipis logam lain. Pada umumnya proses penyepuhan dilakukan untuk melindungi logam itu terhadap korosi dan membuat penampilan benda itu lebih menarik.
Salah satu cara dalam proses penyepuhan adalah dengan elekrolisis. Benda logam yang akan disepuh dijadikan katode dan potongan tebal logam penyepuh dijadikan anode. Kedua elektrode itu dibenamkan dalam suatu larutan garam dari logam penyepuh yang dihubungkan dengan sumber arus searah (arus DC). Logam besi/baja mudah terkena korosi/karat. Untuk melindungi besi/baja dari korosi, maka besi/baja dilapisi suatu logam yang sukar teroksidasi, seperti nikel (Ni), timah (Sn), krom (Cr), perak (Ag), atau emas (Au). Prinsip kerja penyepuhan/pelapisan logam adalah sel elektrolisis larutan dengan menggunakan elektrode yang bereaksi.


C.                 ALAT DAN BAHAN
- Penjepit buaya dan kabel
- Gelas aqua
- Koin Rp.500 warna kuning
- Koin Rp.1000
- Baterai 9 volt
- Larutan CuSO4

D.                 LANGKAH KERJA
1.      Sambung kabel pada penjepit buaya
2.      Hubungkan baterai pada penjepit buaya
3.      Timbang koin untuk mengetahui massa awal koin
4.      Jepit koin pada penjepit buaya
5.      Celupkan koin yang telah dijepit kedalam larutan CuSO4
6.      Amati perubahan yang terjadi

E.                 DATA PENGAMATAN

Logam penyepuh
Logam yang disepuh
Massa awal koin 1000
Massa akhir koin 1000
Massa awal koin 500
Massa akhir koin 500
500
Anoda(+)
1000
Katoda (-)
4,52
4,57
5,29
5,31

Sebelum pengamatan
Setelah pengamatan
Koin 1000 pada awalnya bermassa 4,52 gr dan berwarna putih
Koin 500 pada awalnya bermassa 5,29 gr dan berwarna kuning
Koin 1000 mengalami penambahan massa 0,05 gr dan berubah warna menjadi kemerahan
Koin 500 mengalami penambahan massa 0,02 gr dan terjadi pemudaran warna




Koin 500 sebelum penyepuhan
Koin 1000 sebelum penyepuhan
Koin 1000 setelah penyepuhan

Koin 500 setelah penyepuhan

Proses penyepuhan

F.                  PEMBAHASAN
Pada katoda koin 1000 warna awalnya putih dan warna awal koin 500 berwarna kuning keemasan. Setelah dilakukan penyepuhan koin 1000 berubah warna menjadi kemerahan sedangkan koin 500 perlahan-lahan mengalami pemudaran.
Terlihat dalam percobaan ini koin 1000 terlapisi oleh tembaga. Hal ini disebabkan oleh pergerakan ion Cu2+ yang tereduksi di katoda, yang membentuk Cu pada katoda.
Cu2+ (aq)  +  2e-     Cu(s)

Pada anoda terlihat logam Cu melebur. Hal ini dikarenakan Cu logam tak inert yang dapat teroksidasi menjadi ion Cu2+ yang akan tereduksi menjadi logam Cu yang akan melapisi koin 1000.
Cu(s)      Cu2+ (aq) +  2e-

G.                KESIMPULAN
Penyepuhan adalah pelapisan dengan logam menggunakan sel elektrolisis untuk memperindah penampilan dan pencegahan korosi. Benda yang akan disepuh dijadikan katode dan logam penyepuh sebagai anode. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan elektrolit dari penyepuh seperti pada penyepuhan tembaga adalah CuSO4 dan Dan lamanya proses penyepuhan mempengaruhi ketebalan lapisan logam penyepuh pada logam yang disepuh.

H.                 SARAN
 Sebaiknya pengamat melakukan pengamatan dengan teliti agar data yang dihasilkan sesuai dengan teori, melakukan penimbangan di tempat yang tidak terganggu oleh angin dan getaran untuk ketepatan dalam menghitung hasil penimbangan. Apabila ingin mencegah logam dari korosi dan memperindah logam, kita dapat melakukan proses penyepuhan dalam kehidupan sehari-hari.

I.                    REFERENSI
            http://rezzaarmanda.blogspot.com/2015/04/penyepuhan.html
            http://sainsivet.blogspot.com/2017/12/laporan-praktikum-penyepuhan-logam.html
            https://serbaserbicampuran.blogspot.com/search?q=laporan%20praktikum%20kimia

PERCOBAAN 2 : PERCOBAAN SEL VOLTA PADA BUAH
A.    TUJUAN PERCOBAAN
            Untuk mengukur energi potensial standar sel (E0 sel) melalui percobaan dengan menggunakan katoda dan anoda yang berbeda.

B.     LANDASAN TEORI
            Sel volta (sel galvani) adalah sel elektrokimia di mana energi kimia dari reaksi redoks spontan diubah menjadi energi listrik. Prinsip kerja sel volta dalam menghasilkan arus listrik adalah aliran transfer elektron dari reaksi oksidasi di anoda ke reaksi reduksi di katoda melalui rangkaian luar.

            Adanya arus listrik berupa aliran elektron pada sel volta disebabkan oleh adanya beda potensial antara kedua elektroda yang disebut juga dengan potensial sel (Esel) ataupun gaya gerak listrik (ggl) atau electromotive force (emf). Potensial sel yang diukur pada keadaan standar (suhu 25°C dengan konsentrasi setiap produk dan reaktan dalam larutan 1 M dan tekanan gas setiap produk dan reaktan 1 atm) disebut potensial sel standar (E°sel). Nilai potensial sel sama dengan selisih potensial kedua elektrode. Menurut kesepakatan, potensial elektroda standar mengacu pada potensial reaksi reduksi.

E°sel = E°katoda – E°anoda

            Katoda adalah elektroda yang memiliki nilai E° lebih besar (positif), sedangkan anoda adalah elektroda yang memiliki nilai E° lebih kecil (negatif).

C.    ALAT DAN BAHAN
v  Buah sunkist
v  Buah apel
v  Lempeng tembaga
v  Lempeng seng
v  Paku
v  Penjepit buaya dan kabel
v  Multimeter

D.    LANGKAH KERJA
1.    Sambung kabel pada penjepit buaya
2.    Hubungkan salah satu ujung penjepit buaya dengan multitester
3.    Hubungkan ujung penjepit buaya lainnya ke lempeng yang telah ditancapkan pada buah sesuai dengan katoda dan anoda yang telah ditentukan
4.    Kemudian lihat angka yang terdapat pada multimeter dan catat hasilnya


E.     DATA PENGAMATAN
No.
Buah
Katoda (+)
Anoda (-)
E0 Sel
1.
Sunkist
Cu
Zn
0,45
2.
Sunkist
Cu
Fe
         0,5
3.
Apel
Cu
Zn
         0,6
4.
Apel
Cu
Fe
         0,65
Besi dan Tembaga
Seng dan Tembaga



F.     PEMBAHASAN
            Dengan menggunakan buah sunkist apabila menggunakan katoda Cu dan anoda Zn menghasilkan E0 Sel sebesar 0,45 V. Sedangkan dengan menggunakan katoda yang sama namun dengan anoda yang berbeda yaitu berupa Zn menghasilkan E0 Sel sebesar 0,5 V. Begitu juga pada apel, apabila dengan menggunakan anoda Fe akan menghasilkan E0 Sel lebih besar dibandingkan dengan menggunakan anoda Zn.
            Hal ini disebabkan karena reaktivitas unsur logam dalam suatu reaksi redoks.


 
 

·      Reaktivitas unsur logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
·      Sifat reduktor (daya reduksi) logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
·      Kecenderungan logam untuk teroksidasi semakin berkurang dari kiri ke kanan.
·      Sifat oksidator (daya oksidasi) logam semakin bertambah dari kiri ke kanan.
·      Kecenderungan ion logam untuk tereduksi semakin bertambah dari kiri ke kanan.

G.    KESIMPULAN
                        Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa perhitungan energi potensial standar sel (E0 sel) dipengaruhi oleh jenis anoda yang digunakan dalam bahan berupa buah yang telah ditancapkan. Berdasarkan nilai E0 Sel dapat disimpulkan bahwa Zn lebih sukar untuk menerima elektron dibandingkan dengan Fe.
H.    SARAN
1.    Menentukan katoda dan anoda dengan tepat
2.    Memasang kabel pada penjepit buaya dengan benar
3.    Mencatat hasil penelitian dengan teliti dan benar

I.       REFERENSI
 

PERCOBAAN 3 : PERCOBAAN KOROSI

A.                 TUJUAN PERCOBAAN
            - Untuk mengetahui paku pada aqua gelas manakah yang menjadi berkarat.
            - Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perkaratan besi
            - Cara pencegahan terjadinya korosi pada besi

B.                 LANDASAN TEORI
Korosi adalah peristiwa perusakan logam oleh karena terjadinya reaksi kimia antara logam dengan  zat-zat di lingkungannya membentuk senyawa yang tak dikehendaki. Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
               Fe(s) <--> Fe2+ (aq) + 2e-


Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e- --> 2H2O (l)

atau

O2(g) + 2H2O(l) + 4e- --> 4OH-(aq)

C.                 ALAT DAN BAHAN
              - Paku 6 buah (Diamplas)  
              - Gelas 6 buah
              - Plastik
              - Karet
              - Air mentah
              - Air mendidih
              - Garam
              - Cuka makan
              - Minyak sayur

D.                 LANGKAH KERJA
1.    Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2.    Siapkan tabel hasil pengamatan
3.    Berikan identitas gelas tersebut (A-F)
4.    Perlakuan paku pada setiap gelas sebagai berikut :
            - Paku A : diletakkan dalam gelas terbuka
- Paku B : diisi air biasa & ditutup (air mentah)
- Paku C : diisi air yang telah dididihkan (ditutup)
- Paku D : diisi air + garam (1 sendok) dalam keadaan tertutup
- Paku E : diisi air + cuka makan (1 sendok) dalam keadaan tertutup
- Paku F : diisi minyak sayur dalam keadaan terbuka
5.    Kemudian amati dan catat perubahan yang terjadi dalam waktu 4 hari

E.                 DATA PENGAMATAN
Dari pengamatan yang kami lakukan, kami memperoleh data sebagai hasil sebagai berikut :

Identitas Gelas
Perubahan yang terjadi
Gelas A
(paku yang diletakkan dalam gelas terbuka)
Hari ke-1 : +
Hari ke-2 : +
Hari ke-3 : ++
Hari ke-4 : ++
Gelas B
(paku yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air biasa/ mentah)
Hari ke-1 : +
Hari ke-2 : +
Hari ke-3 : +
Hari ke-4 : ++
Gelas C
(paku yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air yang telah dididihkan)
Hari ke-1 : +
Hari ke-2 : ++
Hari ke-3 : ++
Hari ke-4 : ++
Gelas D
(paku yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok garam)
Hari ke-1 : +
Hari ke-2 : +
Hari ke-3 : +
Hari ke-4 : +
Gelas E
(paku yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok cuka makan)
Hari ke-1 : +
Hari ke-2 : +
Hari ke-3 : ++
Hari ke-4 : +++
Gelas F
(paku yang diletakkan dalam gelas terbuka dan diisi minyak sayur)
Hari ke-1 : -
Hari ke-2 : -
Hari ke-3 : -
Hari ke-4 : -































Cuka 1

Cuka 2


Cuka 3
Cuka 4


 
Garam 1


Garam 2

Garam 3

Garam 4

Minyak 1

Minyak 2
Minyak 3

Minyak 4

 
Air terbuka 1


Air terbuka 2

Air terbuka 3

 
Air terbuka 4

 
Air mentah 1


Air mentah 2

Air mentah 3

Air mentah 4

 
Air rebus 1


Air rebus 2

Air rebus 3

Air rebus 4


F.                  PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan kami, dapat kami peroleh data sebagai berikut :
Pada paku A yang diletakkan dalam gelas terbuka telah mengalami korosi pada hari pertama sedikit serta telah mengubah warna airnya menjadi agak kuning karena mengandung O2 dan H2O.

Pada paku B yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air mentah telah mengalami korosi pada hari pertama sedikit serta telah mengubah warna airnya menjadi agak kuning karena mengandung O2 dan H2O. Permukaan pakunya mulai berkarat pada hari ke-2, dan airnya keruh pada hari ke-4. 

 Pada paku C yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air yang telah dididihkan mengalami korosi karena terdapat H2O.Namun, tingkat kemurnianya lebih tinggi air suling meski bakteri dalam air panas telah dikurangi melalui proses pemanasannya. Selain itu, suhu juga berpengaruh, semakin tinggi suatu suhu, semakin cepat reaksi perkaratan berlangsung.

 Pada paku D yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok garam),
paku terlihat berkarat, terjadi endapan yang begitu tebal dan oranye pada hari pertama. Pada hari kedua dan ketiga perubahan warna airnya menjadi semakin keruh.

Pada Paku E yang diletakkan dalam gelas tertutup dan diisi air + 1 sendok cuka makan) terjadi sedikit perkaratan pakunya. Pada hari ke-2, terlihat sedikit karat pada bagian atasnya. Pada hari ke-3, terlihat karat pada paku tersebut semakin membanyak dan membesar. Pada hari ke-4, terjadi perubahan warna airnya dari bening menjadi kekuningan sedikit serta karat pada paku tersebut semakin membesar.

Pada Paku F yang diletakkan dalam gelas terbuka dan diisi minyak sayur) , tak terlihat adanya karat pada paku.

Adapun faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya korosi yaitu :
Konsentrasi H2O dan O2
Dalam kondisi kelembaban yang lebih tinggi, besi akan lebih cepat berkarat. Selain itu, dalam air yang kadar oksigen terlarutnya lebih tinggi, perkaratan juga akan lebih cepat. Hal ini sebagaimana air dan oksigen masing-masing berperan sebagai medium terjadinya korosi dan agen pengoksidasi besi.
pH
Pada suasana yang lebih asam, pH < 7, reaksi korosi besi akan lebih cepat, sebagaimana reaksi reduksi oksigen dalam suasana asam lebih spontan yang ditandai dengan potensial reduksinya lebih besar dibanding dalam suasana netral ataupun basa.
Keberadaan elektrolit
Keberadaan elektrolit seperti garam NaCl pada medium korosi akan mempercepat terjadinya korosi, sebagaimana ion-ion elektrolit membantu menghantarkan elektron-elektron bebas yang terlepas dari reaksi oksidasi di daerah anode kepada reaksi reduksi pada daerah katode.
Suhu
Semakin tinggi suhu, semakin cepat korosi terjadi. Hal ini sebagaimana laju reaksi kimia meningkat seiring bertambahnya suhu.
Galvanic coupling
Bila besi terhubung atau menempel pada logam lain yang kurang reaktif (tidak mudah teroksidasi, potensial reduksi lebih positif), maka akan timbul beda potensial yang menyebabkan terjadinya aliran elektron dari besi (anode) ke logam kurang reaktif (katode). Hal ini menyebabkan besi akan lebih cepat mengalami korosi dibandingkan tanpa keberadaan logam kurang reaktif. Efek ini disebut juga dengan efek galvanic coupling.
Teknik pencegahan korosi besi
Korosi pada besi menimbulkan banyak kerugian, karena barang-barang atau bangunan yang menggunakan besi menjadi tidak awet.
Korosi pada besi dapat dicegah dengan membuat besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), namun proses ini membutuhkan biaya yang mahal, sehingga tidak sesuai dengan kebanyakan pengunaan besi
Cara pencegahan korosi pada besi dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Pengecatan
Pengecatan berfungsi untuk melindungi besi dari kontak dengan air dan udara. Cat yang mengandung timbal dan seng akan lebih melindungi besi terhadap korosi. Pengecatan harus sempurna karena jika terdapat bagian yang tidak tertutup oleh cat, maka besi di bawah cat akan terkorosi. Pagar bangunan dan jembatan biasanya dilindungi dari korosi dengan pengecatan.

2.      Dibalut plastik
Plastik mencegah terjadinya kontak besi dengan air dan udara. Peralatan rumah tangga biasanya dibalut plastik untuk menghindari korosi.

3. Pelapisan dengan krom (Cromium plating)
Krom memberi lapisan pelindung, sehingga besi yang dikrom akan menjadi mengkilap. Cromium plating dilakukan dengan proses elektrolisis. Krom dapat memberikan perlindungan meskipun lapisan krom tersebut ada yang rusak. Cara ini umumnya dilakukan pada kendaraan bermotor, misalnya bumper mobil.

4.      Pelapisan dengan timah (Tin plating )
Timah termasuk logam yang tahan karat. Kemasan kaleng dari besi umumnya dilapisi dengan timah. Proses pelapisan dilakukan secara elektrolisis atau electroplating. Lapisan timah akan melindungi besi selama lapisan itu masih utuh. Apabila terdapat goresan, maka timah justru mempercepat proses korosi karena potensial elektrode besi lebih positif dari timah.

5.      Pelapisan dengan seng (Galvanisasi)
Seng dapat melindungi besi meskipun lapisannya ada yang rusak. Hal ini karena potensial elektroda besi lebih negatif daripada seng, maka besi yang kontak dengan seng akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode. Seng akan mengalami oksidasi sehingga besi akan lebih awet.

6.      Pengorbanan anode (Sacrificial Anode)
Perbaikan pipa bawah tanah yang terkorosi mungkin memerlukan perbaikan yang mahal biayanya. Hal ini dapat diatasi dengan teknik sacrificial anode, yaitu dengan cara menanamkan logam magnesium kemudian dihubungkan ke pipa besi melalui sebuah kawat. Logam magnesium itu akan berkarat, sedangkan besi tidak karena magnesium merupakan logam yang aktif .


G.                KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, kita dapatkan bahwa paku yang paling cepat berkarat adalah paku yang berada di botol yang berisi larutan garam yang tidak tertutup. Hal ini karena perkaratan pada paku tersebut di pengaruhi oleh Oksigen dan Zat elektrolit (garam). Kemudian yang paling berkarat sampai hari ke-7 adalah paku yang berada di botol yang berisi air tanpa penutup. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kombinasi antara air dan oksigen akan lebih memberikan efek yang lebih signifikan daripada keberadaan O2 saja atau H2O saja.

H.                 SARAN
1.   Dalam melakukan percobaan, sebaiknya kelompok tersebut memiliki kerjasama yang kompak.
2.       Sediakan alat dan bahan dengan lengkap.
3.       Jangan lalai dengan kewajibannya untuk mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi pada   gelas setiap hari.
4.       Ikuti petunjuk yang berlaku
I.                    REFERENSI
http://allriseyuliaa.blogspot.com/2015/10/laporan-percobaan-korosi-logam-paku.html
          http://mbahdegan.blogspot.com/2015/10/laporan-praktikum-kimia-uji-korosi-pada.html
            http://widyaastutisahnur.blogspot.com/2013/10/laporan-praktikum-korosi-pada-paku.html
https://www.studiobelajar.com/korosi/


PERCOBAAN 4 : Elektrolisis Pada Batang Karbon di Larutan ZnSO4

A.                 TUJUAN PERCOBAAN
Untuk membuktikan teori elektrolisis melalui percobaan dan kadar Ph di katoda.

B.                 LANDASAN TEORI
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian atas suatu larutan elektrolit yang telah dilaliri oleh arus listrik searah.Sedangkan sel di mana terjadinya reaksi tersebut disebut sel elektrolisis.Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang dapat menghantarkan listrik yang disebut elektrolit, dan sepasang elektroda yang dicelupkan dalam elektrolit (larutan atau leburan). Pada sel elektrolisis, reaksi kimia akan terjadi jika arus listrik dialirkan melalui larutan elektrolit, yaitu energi listrik (arus listrik) diubah menjadi energi kimia (reaksi redoks). Reaksi-reaksi elektrolisis bergantung pada potensial elektroda, konsentrasi, dan over potensial dari spesi yang terdapat dalam sel elektrolisis.
Elektroda yang menerima elektron dari sumber arus listrik luar disebut Katoda, sedangkan elektroda yang mengalirkan elektron kembali ke sumber arus listrik luar disebut Anoda.Katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi dan anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi.Katoda merupakan elektroda negatif karena menangkap elektron sedangkan anoda merupakan elektroda positif karena melepas elektron. Reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda pada sel elektrolisis sama seperti pada sel volta, yaitu di katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi dan di anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi. Akan tetapi, muatan elektronnya berbeda. Pada sel volta katoda bermuatan positif dan anoda bermuatan negatif, sedangkan pada sel elektrolisis katoda bermuatan negatif dan anoda bermuatan positif.

C.                 ALAT DAN BAHAN
            - Penjepit buaya
            - Larutan ZnSO4
            - Batang karbon
            - Gelas aqua

D.                 LANGKAH KERJA
1.    Sambunglah kabel pada penjepit buaya
2.    Lalu kaitkan kemasing-masing batang karbon
3.    Kemudian lihat apa yang terjadi di masing-masing batang karbon
4.    Kemudian beri kertas lakmus didaerah batang katoda

E.                 DATA PENGAMATAN
Cairan dalam ruang
Perubahan elektrolisis
Perubahan warna setelah elektolisis
Anoda
Terdapat banyak gelembung dan pH<7
Tidak terjadi perubahan warna, karbonnya biasa saja
Katoda
Gelembung sedikit, keruh di sekitar elektroda
Karbonnya berwarna putih terlapisi oleh Zn
Proses elektrolisis carbon

F.                  PEMBAHASAN
Ketika reaksi berlangsung, pada Anoda tidak mengalami perubahan warna.Pada Anoda elektrolisis bersifat asam karena dapat ditemukan ion H+. Ion H+ dan gas O2 merupakan hasil reduksi yang dapat ditemukan di Anoda sehingga pada Anoda dapat ditemukan banyak gelembung. Maka reaksi yang terjadi yaitu :
2H2O → O2 + 4H+ + 4e
Ketika reaksi berlangsung, pada Katoda mengalami perubahan warna menjadi merah keunguan. Hal tersebut menandakan bahwa pada Katoda unsur Zn mengalami pengendapan, maka reaksi yang terjadi yaitu
2 Zn2+ + 4e → 2 Zn

G.                KESIMPULAN
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian atas suatu larutan elektrolit yang telah dilaliri oleh arus listrik searah.Sedangkan sel di mana terjadinya reaksi tersebut disebut sel elektrolisis.Sel elektrolisis terdiri dari larutan yang dapat menghantarkan listrik yang disebut elektrolit, dan sepasang elektroda yang dicelupkan dalam elektrolit (larutan atau leburan).
Dari hasil pengamatan,dapat kami simpulkan bahwa sel elektrolisis mengubah energy listrik menjdi energy kimia.Hal ini didasarkan pada terdapatnya gelembung udara pada katoda maupun anoda dan terjadinya perubahan warna indikator akibat berubahnya konsentrasi OH{-} pada katoda dan H{+} pada anoda.

H.                 SARAN
Sebaiknya peristiwa percobaan dengan teliti,beri kertas lakmus di masing-masing batang katoda bukan hanya di batang katoda saja.

I.                    REFERENSI
      Http://praktikum-kimia-sel-elektrolisis
Http://noviakimiapasca.wordpress.com
Http://wikipedia-elektrolisis.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar